Kisah Buku yang Menjadikan Candu
| Salah satu buku Kang Maman Suherman bersama koleksi perpustakaan pribadiku |
Penulis: Juragan Dibdas Hanuban
Tahun 2015 merupakan tahun paling beruntung bagiku, karena pada saat itu aku mengenal dunia perbukuan. Kembali pada kisah enam tahun lalu, pada saat itu aku mendapat hadiah sebuah buku kenangan dari seorang guru, aku tidak tahu mengapa buku itu begitu istimewa jatuh pada seorang sepertiku yang sangat tidak suka dengan aktivitas membaca. Alih-alih menghargai pemberian beliau, buku itu pun akhirnya usai sudah terbaca hingga selesai; dari halaman depan hingga paling belakang.
Entah mengapa usai membaca buku itu aku semakin ketagihan, apalagi pada suatu hari aku berkesempatan mengunjungi rumah guruku. Satu hal yang membuatku kaget, sebab di rumah beliau ada salah satu ruangan khusus untuk perpustakaan pribadi yang penuh dengan buku-buku, dari buku tipis hingga yang paling tebal sampai ratusan halaman. Anehnya, ketika aku masuk ke ruang tersebut entah mengapa rasanya nyaman sekali, dan terlintas dalam pikirku untuk bisa memiliki perpustakaan pribadi seperti itu.
Singkat cerita, diam-diam aku menyisihkan uang jajan untuk membeli buku. Awalnya hanya iseng dengan cerita teman yang gemar membaca dan hobi menonton film. Belilah aku buku yang saat itu sedang ramai dibincangkan, dan ajaibnya minat bacaku semakin bertambah seiring aktivitas membeli buku. Namun, hal tersebut tidak berjalan lama, sebab uang untuk membeli buku tidak lagi terpenuhi seiring bertambahnya kebutuhan sekolah. Aktivitas membaca pun akhirnya vakum hingga waktu yang cukup panjang.
Memasuki tahun 2019, aku kembali mendapatkan paket buku gratis dari guruku, hal inilah yang menjadikan semangat membaca kembali tumbuh. Senang rasanya bisa kembali bercengkrama dengan dunia yang luas dan tak terbatas. Dan secara perlahan keinginan untuk memiliki perpustakaan pribadi pun semakin membesar. Aku pun ikut bergabung dengan komunitas penggiat literasi yang menjadi salah satu wadah untuk belajar, berbagi, dan mengabdi. Di sana aku banyak mendapatkan pelajaran, terutama dalam hal berbagi.
Bersama komunitas penggiat literasi ini aku mendedikasikan diri untuk berbagi; waktu, ilmu, pengalaman, dan apapun yang bisa dibagi selagi itu dibutuhkan dan tidak saling merugikan. Terutama dalam hal menebar virus literasi; baik membaca maupun menulis. Karena aku ingat begitu luar biasa waktu mengubah diriku yang dulu sama sekali tidak suka dengan membaca, hanya dengan diberi buku oleh guru favorit, hal itu menumbuhkan semangat baca yang mendalam. Dan menjadi pembuka jalan pikiran, serta menjadi pintu untuk mengenal dunia yang luas.
Aku harap, kedepan bisa seperti salah satu penggiat literasi Indonesia, Kang Maman Suherman, yang mendedikasikan penuh dirinya untuk berbagi, baik buku maupun hal lainnya, yang bekerjasama dengan JNE melalui berbagai program edukasi dan kiterasi. Semoga bisa berkarya pula sebagaimana Kang Maman, Aamiin.
Komentar
Posting Komentar